Kata-kata lugas nan romantis yang tertera di kertas pink itu membekukan syarafku untuk beberapa waktu. Mataku bergerak cepat, seolah tak ingin melewatkan satu huruf pun dari rangkaian kalimat yang tergores indah di sana. Berulang kali, aku membacanya dengan seksama untuk memastikan bahwa aku tidak salah.
Syifa yang baik,
Aku bermimpi berjalan di sebuah taman yang indah. Pepohonan yang menghijau dengan sungai-sungai jernih yang mengalir di bawahnya. Entah kenapa, aku merasa seperti berada di surga.
Meskipun aku disurga, mungkin aku tak bahagia. Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu. Aku ingin kau menjadi bidadariku di sana. Tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian .
Bersediakah Syifa?
Jantungku melompat, dan membuat aliran darahku menderas bak anak sungai pada musim penghujan. Sesaat kemudian, aku melayang. Terinduksi oleh hormon GR yang meningkat tajam akibat surat singkat yang diberikan kepadaku tadi pagi.
Dia melamarku, benarkah?
Tolong koreksi jika aku salah. Tapi rasanya hormon GR itu tidak lantas membuatku idiot seketika. Dari kata-katanya, aku yakin bahwa Erland, jejaka tampan itu, melamarku. Jika saja aku tidak mengingat usiaku saat ini, ingin rasanya aku berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Aku lantas tersenyum. Memaksa memoriku untuk kembali pada peristiwa dua bulan silam, ketika aku bertemu dengannya pada acara pernikahan sepupuku. Di sana, untuk pertama kali aku melihatnya.
“Erland,” ia memperkenalkan diri sembari menatapku dengan tatapan tajam yang membekukan langkahku.
Seketika aku merasakan getaran itu. Gempa dahsyat berkekuatan sembilan skala richter yang mengguncang hatiku. Lebih dahsyat dibanding gempa yang pernah mengguncang Mentawai beberapa waktu yang lalu. Aku lantas memberanikan diri membalas tatapannya, dan aku menemukan sepasang mata rajawali di sana.
“Syifa,” balasku dengan suara bergetar.
Ia tersenyum kepadaku. Menyentak aliran darahku. Dan pada detik itu juga aku merasakan hantaman tsunami Jepang berpindah ke hatiku.
# # #
Mukaku bersemu merah, ketika dua pasang mata milik Abah dan Ibu menatapku. Mereka menanti alasan yang siap meluncur dari mulutku yang sedikit terbuka. Aku mencoba merangkai kata yang berlompatan di dalam otakku, sembari menenangkan diri akibat degup jantung yang tak menentu. Lelah aku berusaha mengemukakan alasan penerimaanku atas lamaran Erland. Hingga akhirnya, aku menyadari bahwa aku memang tak punya alasan yang cukup untuk itu.
“Kamu pasti bercanda,” tawa Abah terdengar keras.
Aku menatap Abah lekat-lekat, “Aku tak pernah lebih serius dari ini.”
Abah terperangah, “Punya modal apa dia, sehingga berani melamar gadisku yang paling cantik?”
Aku hanya diam, karena memang tak tahu harus berkata apa. Entah kenapa, aku merasa tak punya alasan-alasan spesifik yang mendukung keputusanku. Aku bahagia bersamanya. Dan bagiku itu sudah lebih dari cukup.
“Bagaimana kalau aku tak setuju?” tanya Abah menyambarku hingga ke ubun-ubun.
“Kalian tak sekufu,” lanjutnya sebelum aku sempat melontarkan pertanyaan.
“Dia baru jadi sarjana sedangkan mastermu sudah selesai.”
“Kau direktur, dan dia hanya pegawai biasa.”
“Tapi Erland lelaki yang baik, Bah,” aku coba mambantah.
“Aku yakin dia bisa menjadi imam yang baik untukku dan keluargaku nanti.”
“Kalau hanya baik, itu tidak cukup,” ujar Abah sambil membuang muka.
“Sayang, siapa pun boleh datang melamarmu, tapi jawabanmu tak harus iya, kan?” Ibu mencoba menetralisir keadaan.
“Abah benar Nak. Pikirkan baik-baik, menikah itu hanya untuk sekali dalam seumur hidup, dan Ibu tak mau kau salah pilih!”
Aku marah. Air mataku merebak. Menyesalkan alasan mereka yang menurutku sangat tidak masuk akal. Tahukah mereka bahwa Erland mampu membiayai kuliahnya sendiri sejak terdaftar sebagai mahasiswa semester pertama? Tahukah mereka bahwa Erland yang hanya pegawai biasa tapi memiliki banyak keterampilan yang luar biasa? Mereka tak tahu. Tepatnya, tak mau tahu!
Lalu, atas dasar apa mereka boleh menilainya dengan parameter seperti itu? Apakah kekurangannya sekarang dapat dijadikan ukuran keberhasilannya di masa datang?
Rabb, aku hanya ingin jatuh cinta sekali saja. Dan aku telah menjatuhkan cintaku pada Erland. Apakah aku salah? Apakah cinta harus selalu ditimbang untung ruginya seperti ini?
Aku tak kuasa lagi menahan tangis. Menyadari bahwa ketidaksukaan mereka pada Erland ternyata sudah sangat parah.
# # #
“Rabb, aku tahu bahwa ridho-Mu ada pada ridho orang tuaku. Dan murka-Mu ada pada murka mereka. Aku mencintai Erland, tapi aku juga mencintai orang tuaku. Jika cinta ini akan mendatangkan kebaikan padaku, maka dekatkanlah. Namun, jika Engkau belum mengizinkanku untuk bersamanya, maka tolong jauhkan ia dengan cara-Mu.”
“Amin,” bisikku lirih.
Aku mengusap muka dengan kedua tangan. Menyudahi doa panjangku sambil menyeka air mata yang sejak tadi mengalir tiada henti. Habis sudah rasanya energiku terkuras untuk meluluhkan hati Abah dan Ibu. Namun, hingga detik ini belum kujumpai titik terang.
Aku termenung. Sibuk memikirkan kata-kata Erland tadi siang ketika kami sengaja bertemu usai rapat di kantorku.
“Mungkin ini memang yang terbaik Syifa.”
Aku tak percaya mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Menyerahkan ia?
“Kenapa kau tak mau berjuang bersamaku?” tanyaku marah.
“Kita sudah mencoba, Syifa. Dan sekarang biarkan Sang Pemegang Kuasa yang memutuskan.”
“Lalu, bagaimana kelanjutannya?” aku penasaran.
“Saling membebaskan, karena kita belum punya ikatan apa-apa,” jawabnya tegas. Untuk sesaat aku membenci Erland, sekaligus semakin mengagumi kebesaran jiwa pemuda itu.
Hhh ...
Mungkin Erland benar. Belum saatnya.
Aku tersenyum. Lekas kuambil pena dan mulai menulis.
Erland yang baik,
Kau adalah bagian hidupku, dan aku pun menjadi bagian hidupmu yang tak terpisahkan. Bila nanti aku kehilangan, mungkin itu hanya sesaat. Karena kuyakin kita kan bertemu lagi.
Besediakah Erland?
# # #
Bilik Rindu, 09 Juni 2011

