Mengenai Saya
- Addien Sjafar Qurnia
- Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
- Hidup adalah metamorfosis. Didalamnya terdapat proses, perjuangan dan pengorbanan.....
Rabu, April 20, 2011
AKU VS MBEEEEEK
“Kalian dari mana?” tanyaku pada lima pemuda berbatik biru yang terengah-engah pasca melintasi lapangan volly.
“Lihat kambing bu,” jawab mereka.
Mataku melotot.
“Apa?” ulangku ingin memastikan pendengaran.
“Lihat Pak Satyo nyembelih kambing bu.”
Kata-kata mereka sontak menyulut amarahku. Suatu alasan yang benar-benar tak logis. Mengabaikan ulangan mid semester yang aku janjikan hanya karena.....
Allah, aku tak dapat berkata-kata. Egoku terluka, saat masuk kelas dan mendapati kelasku lengang. Hanya tersisa siswa putri dan lima orang siswa putra, di sana.
Ada apa dengan generasi muda Indonesia sekarang?
“Maaf bu.” Wildan sang ketua kelas berkata.
“Kami ngaku salah.”
“Kambing lebih penting daripada mid?”
“Bukan gitu Bu. Kami kasihan sama Pak Satyo.”
“Iya, tapi kalian bisa bantu nanti setelah selesai mid.”
“Ndak ada yang bantu pegangin kambingnya, Bu,” sela Mamat siswa favoritku.
“Kambingnya mau dipakai siang ini. Tapi kakak-kakak yang biasa bantuin Bapak ndak ada. Jadi kami yang bantuin.”
Terbayang wajah Pak Satyo dimataku. Lelaki renta berumur hampir tujuh puluh tahun yang bertugas sebagai pengurus asrama putra sekaligus merangkap koki asrama. Ah, pasti beliau kewalahan menghadapi beberapa ekor kambing yang akan dijadikan hidangan utama pada acara syukuran siang ini.
So sweet. Pantaskah aku menghukum mereka karena hal ini? Hatiku yang melankolis bernyanyi.
Harus dihukum, karena mereka mengabaikan kewajibannya, egoku yang rasional menyela.
Hhh......
“Oke, alasan kalian Ibu terima. Tapi hukuman tetap berlaku,” ujarku sambil menatap mereka, tajam.
“Siaaaaapppp,” koor mereka serempak setelah terdiam beberapa saat.
N I N G
“Jadi, peta konsep adalah suatu strategi untuk menampilkan bahan ajar dengan...” kalimatku terputus ketika Wirna mengangkat dan menghadapkan hp nya tepat di depan wajahku.
Busyet, lagi presentasi masih bisa smsan, batinku. Tapi tak urung, kubaca isi sms itu.
“Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Mohon do’a dari teman-teman semua untuk almarhumah adik kami, Ning, yang telah berpulang ke rahmatullah....” isi pesan singkat itu hanya setengah yang terbaca olehku. Karena, seingatku lanjutan sms itu tak terlihat oleh mataku yang penuh dengan air mata yang siap tumpah.
Ruang kelas hening sesaat. Dosenku mengambil kebijakan untuk menyampaikan berita duka itu, ketika melihat Wirna menangis sesenggukan disampingku.
Aku hanya diam mematung sementara tangis telah pecah di ruang kelasku yang tak seberapa besar.
Mati rasa kah aku? Tidak. Justru aku adalah orang yang sepatutnya sangat bersedih atas kejadian itu. Karena aku adalah karibnya.
Ia adalah seseorang yang selalu memotivasiku untuk mengenakan jilbab.
“Belum siap,” demikian alasanku ketika itu.
Ia hanya mencibir sambil lalu, “Kapan siapnya?”
Dan pertanyaan itu masih membekas hingga saat ini.
Ia juga yang selalu memaksaku menambah jumlah hafalan surah At Taubah jika aku kepergok mengerling abang-abang kece di kampus.
“Hayo, lihat abang itu lagi kan? Iqobnya nambah dua ayat!” katanya sambil memelototiku dengan matanya yang indah.
Aku yang tomboy hanya tertawa, “Rezeki mata, Ning.”
Ia hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.
Ning, adalah teman, sahabat, dan saudara. Kepadaku, ia sering bercerita tentang impian-impiannya. Tentang targetnya untuk menikah pada semester empat, ketika usianya genap dua puluh tahun.
“Ovariumku tinggal satu Dien, kalo aku nda nikah cepat-cepat nanti aku nda bisa punya anak.” Demikian jawabnya renyah ketika kutanya alasannya. Kemudian ia memperlihatkan foto hasil USG satu-satunya ovarium yang masih dimilikinya yang juga telah terinfeksi.
Allah. Miris hatiku tiap kali mengingatnya.
Bertahun-tahun ia berjuang melawan penyakit itu. Prokista ovari stadium lanjut yang kemudian diperparah oleh kanker serviks. Kedua penyakit itu menyebabkan ia harus menjalani kemoterapi berkali-kali, hingga wajah cantiknya tampak tirus. Dan tubuhnya hanya tinggal tulang berbalut kulit.
Sungguh sebuah perjuangan yang berat. Tapi, Ning melewati semua itu dengan senyum.
“Allah mengujiku dengan ini, karena Ia tahu bahwa aku mampu melewatinya.” Kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Dan kata-kata itu pula yang selalu menguatkan aku hingga kini.
Ning, yang menitipkan kekuatan itu kepadaku.
Selasa, April 19, 2011
Dream High (OST) - Dream High Dance Routine/Dance-A-Long [Mirrored]
I Dream High nan kkumeul kkujyo
Hindeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo
Duryeoumeui kkeuteseo nan
Oneuldo heundeullijyo
Tteorejilkka bwa naraoreuji mothaneun
Eorin saecheoreom
Jakku naega hal su inna
Nae kkumi irweojilkka
Naeditneun georeum han georeum georeumi dashi
Duryeoweo jil ttaemada
I Dream High nan kkumeul kkujyo
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
http://awansetya18.blogspot.com/
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo
I can fly high naneun mideoyo
Eonjenganeun jeo haneulwiro
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi nara oreul geoeyo
Neomeojin nal ireukkyeo jul
Yonggiga phiryohajyo
Meonjireul teolgo dashi ireona tto han beon
Ttwieogal yonggiga
Dashi han beon nareul midgo
Naeui unmyeongeul midgo
http://awansetya18.blogspot.com/
Modeun geol geolgo nae kkiboda nopeun byeogeul
Ttwieo neomeulgeoeyo ~Oh
I Dream High nan kkumeul kkujyo ( kkumeul kkujyo )
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ( dashi ) ireonajyo ( Oh )
I can fly high naneun mideoyo
Eonjenganeun jeo haneulwiro ( jeo haneulwiro )
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi ( nan ) nara oreul geoeyo
Dream high a chance to fly high
Apeumdeureun ijen modu da bye bye
Haneure inneun jeo byeoldeul
Cheoreom nopi narabwa ni kkumdeureul
Pyeolchyeo boneun geoya time for you to shine
Ijebuteo shijagiya gotta make ‘em mine
http://awansetya18.blogspot.com/
Ni soneuro irweoga mirael duryeoweo hajima
Ijen himkkeot jashinitge georeoga
Destiny sukmyeongiji meomchul su eopneun
Unmyeongi jigeum uri nunape pyeolchyeojiji
Igeon neoreul wihan whole new fantasy
Geureoni ijebuteo yeogi soneul jaba
Urieui mikpyoneun jigeumbuteo hana
Kkumgwa mirae pogi haji anha
Jeolmeum yeoljeong yeogi moduda Dream High
I Dream High nan kkumeul kkujyo ( kkumeul kkujyo )
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo ( nuneul gamgo )
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo ( Oh )
I can fly high naneun mideoyo ( mideoyo )
http://awansetya18.blogspot.com/
Eonjenganeun jeo haneulwiro ( jeo haneulwiro )
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi nara oreul geoeyo
Suzy - Only Hope (Finale)
There’s a song that’s inside of my soul.
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold.
But you sing to me over and over and over again.
So, I lay my head back down.
And I lift my hands and pray
To be only yours, I pray, to be only yours
I know now you’re my only hope.
Sing to me the song of the stars.
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again.
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that you have for me over again.
So I lay my head back down.
And I lift my hands and pray
To be only yours, I pray, to be only yours
I know now, you’re my only hope.
I give you my destiny.
I’m giving you all of me.
Sabtu, April 09, 2011
JIKA
Jika kematian
Adalah akhir dari segala
Maka…
Dengannya ku akan bahagia
Jika kematian
Adalah awal dari segala
Maka…
Dengannya luruhlah air mata
Jika kematian
Adalah akhir dari sua
Maka…
Kulepas ia dengan luka
Jika kematian
Adalah awal dari jumpa
Maka..
Kusambut ia dengan segenap cinta
Biru ku Buram
Tegak ku dalam biru yg memburam
Sepi ku dalam hitam yg mencekam
Asa masih tetap menyala
Namun cinta tlah habis tiada sisa
PERJALANAN SUNYI
“Sebulan lagi adikmu menikah. Kamu kapan?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan Abah barusan. Pertanyaan yang sama seringkali dilontarkannya dalam beberapa tahun belakangan.
“Belum tau.”
“Masa’ belum punya rencana?”
“Gimana mau nikah, calonnya aja nggak ada.”
“Emang bisa asal comot lelaki di pasar buat diajak nikah?,” jawabku kesal.
“Nanti orang-orang jadi malas mau pergi ke undangan kita. Tiap tahun ada saja yang nikah.” Abah tak mau kalah.
“Itukan resiko. Abah punya anak perempuan lebih dari satu. Wajarkan.”
“Kalau bisa, kamu juga sekalian,” kata beliau setelah menimbang beberapa jenak.
“Masih ada waktu satu bulan. Kau carilah. Kau punya banyak teman lelaki. Tak mungkin satu pun tak ada yang cocok.” Lelaki itu menghembuskan asap cerutunya disela pembicaraan.
“Jangan terlalu pemilih, Rey.” Mak berkata lembut.
“Dan jangan sampai kau dilangkahi lagi oleh adikmu.”
Duggg...!!!!
Kata-kata Mak telak menghantamku.
“Yang pemilih itu abah. Bukan aku!!” lanjutku geram sambil berlalu.
Seandainya saja tujuh tahun yang lalu Abah menerima lamaran Reza, mungkin saat ini aku sudah beranak pinak. Menghadirkan dua atau tiga orang cucu dalam kehidupan Abah dan Mak. Dan tentu tak harus terbebani oleh kata-kata lembut wanita itu. Juga tak harus pontang-panting mencari calon dalam waktu satu bulan.
Tapi, apa hendak dikata, Abah menolak dengan alasan Reza bukan keturunan bangsawan sepertinya. Lelaki aristokrat itu tak rela jika gelar kebangsawanannya terputus pada kami, ketiga anak perempuannya.
Aku sempat menangkap pancaran sedih dimata Reza. Lelaki baik hati itu terluka.
“Tak apa Bah. Mungkin saya bukan yang terbaik buat Rey.” Reza menjawab penolakan Abah dengan tenang.
Jangan kau tanya bagaimana perasaanku kala itu. Terlalu sakit, sehingga tak mampu berkata apa-apa. Bahkan, untuk beradu argumen seperti yang kerap kali kulakukan pun, aku tak sanggup.
Berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Berharap Abah berubah pikiran. Tapi hasilnya, nihil. Abah tetap tak bergeming dengan keputusannya.
Dan aku selalu berharap, keajaiban itu datang. Hingga saat ini, di titik usiaku yang paling rawan, dua puluh sembilan tahun, aku masih harus meniti hidupku sendiri. Dalam sunyi.
Langganan:
Komentar (Atom)



