Mengenai Saya

Foto saya
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
Hidup adalah metamorfosis. Didalamnya terdapat proses, perjuangan dan pengorbanan.....

Sabtu, November 26, 2011

Lomba Menulis Fiksi Dumala 2011/2012

Dalam rangka memperkenalkan dumalana.com, bersama Dumala Pustaka Publisher Dumalana mengadakan Fiction Competition 2011/2012. Lewat lomba ini, para penulis diundang mengikuti lomba penulisan dalam blog dumalana. Dumalana menyediakan hadiah berupa uang senilai total Rp 11.250.000 (sebelas juta dua ratus lima puluh ribu rupiah). Untuk mengikuti lomba ini, cukup kirim tulisan di Dumalana dengan tags: Fiction-Competition (TANPA TANDA KUTIP). Informasi selanjutnya bisa dibaca di Ketentuan Lomba.
Jadwal Lomba
Lomba menulis fiksi berlaku setiap periodenya selama 1 bulan dengan selang waktu tiap periode lebih kurang 2 bulan. Total hadiah dimaksud untuk total 5 Periode.
Periode Pertama penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Juli s.d 10 Agustus 2011. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000Â | Pengumuman Pemenang: 10 September 2011
Periode Kedua penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Oktober s.d 10 Nopember 2011. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Desember 2011
Periode Ketiga penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Januari s.d 10 Februari 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Maret 2012
Periode Keempat penulisan Fiction Competition: tanggal 11 April s.d 10 Mei 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Juni 2012
Periode Kelima penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Juli s.d 10 Agustus 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 September 2012
Ketentuan Lomba
Ketentuan Umum
Lomba terbuka untuk masyarakat umum, jurnalis, mahasiswa/pelajar, penulis, dan penggiat media online. Untuk mengikuti lomba, calon peserta harus memiliki akun Dumalana.
Karya lomba tidak melanggar ketentuan tentang SARA dan norma kesusilaan.
Karya lomba harus hasil karya pribadi (orisinal), bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide karya yang pernah dibuat.
Karya Lomba bersifat baru dan belum pernah ditayangkan di media manapun atau diikutsertakan pada kompetisi lainnya.
Karya yang melanggar Ketentuan Umum akan didiskualifikasi dan dinyatakan gugur.
Tulisan peserta kompetisi langsung tayang dan bisa dibaca dan ditanggapi di Dumalana.
Semua tulisan yang diikutsertakan dalam Dumalana “Fiction-Competition” menjadi milik Dumalana.com
Ketentuan Teknis
Peserta telah terdaftar sebagai member Dumalana/Dumalanizer. Peserta yang belum menjadi member bisa mendaftarkan diri secara gratis terlebih dulu di dumalana.com.
Karya lomba ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya bahasa bebas, dengan batas minimal 500 kata.
Peserta diperbolehkan mengirim lebih dari satu tulisan
Hadiah
Tiga tulisan terbaik pada tiap periode masing-masing mendapatkan Uang.
Pemenang Pertama Rp 1.000.000. (satu juta rupiah)
Pemenang Kedua Rp 750.000 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)
Pemenang Ketiga Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah)
Setiap tulisan, meskipun tidak menjadi pemenang lomba, berkesempatan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Dumala Pustaka Publisher dengan ketentuan terpisah.
Untuk pemenang tidak dijamin akan diterbitkan dalam buku oleh Dumala Pustaka Publisher.
Semua pajak hadiah ditanggung oleh Dumalana.com
Lain-lain
Semua Keputusan Hasil Penjurian oleh Dumalana.com adalah mutlak. Kami tidak melayani gugatan atau protes dari peserta lomba baik melalui telepon, Fax, SMS, maupun email.
Selamat mengikuti

Minggu, November 20, 2011

LOMBA CERPEN REMAJA (LCR) II Tahun 2011

PALING LAMBAT: 31 DESEMBER 2011
30 CERPEN PEMENANG LOMBA DIBUKUKAN....!!!
Kategori:
A. Pelajar/Mahasiswa
B. Guru, Dosen, dan Umum
Tema:
A. Pelajar/Mahasiswa
"Dunia Remaja dan Segala Permasalahannya."
B. Guru, Dosen, dan Umum
"Bebas, dengan tetap mengedepankan keindahan literasi."
SYARAT PENULISAN:
Jumlah 4-6 halaman, spasi ganda (2), jenis huruf Times New Roman font 12, ukuran kerta A4.
Margin (garis): atas, bawah, samping kiri dan kanan (semua sisi 3 cm atau 1,18 inci), beri nomor halaman.
Kesesuaian dengan tema lomba dan tidak mengandung ponografi dan kekerasan, serta tidak menyinggung SARA.
Mencantumkan Nomor ANGGOTA SMCO WRITING REVOLUTION dalam biodata (jika tidak ada, karya dinyatakan HANGUS), yang ditulis pada halaman akhir naskah cerpen.
Kirim naskah cerpen ke alamat email: LombaWR@gmail.com (dengan menulis di judul/subjek email: LCR - Kategori (A/B) - Judul Cerpen) Setiap peserta hanya boleh mengirim 1 cerpen untuk setiap seleksi.
KRITERIA PENILAIAN
1. Orisinalitas
2. Kreativitas pengolahan ide
3. Kedalaman pesan
4. Kaidah penulisan dan kelengkapan naskah
PROSEDUR PENILAIAN
Seleksi dilakukan sebanyak 3 kali yakni pada akhir bulan Juli, September dan Desember 2011 dengan memilih 10 Nominator (5 Nominator untuk masing-masing kategori).
Jika belum masuk nominasi boleh mengirim 1 cepen pada seleksi berikutnya. Namun jika telah masuk nominasi tidak boleh lagi mengirim cerpen sampai akhir lomba (31 Desember 2011)
Dari TOTAL 30 NOMINATOR tersebut, akan dipilih 3 PEMENANG untuk masing-masing kategori setelah berakhirnya perlombaan yang BERHAK mendapatkan UANG PEMBINAAN, BUKU ANTOLOGI PEMENANG LCR 2011 dan SERTIFIKAT PENGHARGAAN.
Setiap nominator yang tidak menang tetap berhak mendapatkan sertifikat dan hadiah buku dan Buku Antologi PEMENANG LOMBA CERPEN REMAJA 2011.
SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA mengikuti SEKOLAH MENULIS CERPEN ONLINE (SMCO), semakin AWAL BERGABUNG, semakin BESAR PELUANG menangnya.
HADIAH
Kategori A. Pelajar/Mahasiswa
Juara I : Rp 1.000.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen PEMENANG LOMBA CERPEN REMAJA 2011 dan sertifikat penghargaan)
Juara II : Rp 750.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen PEMENANG LOMBA CERPEN REMAJA 2011 dan sertifikat penghargaan)
Juara III : Rp 500.00,- (ditambah Buku Antologi Cerpen PEMENANG LOMBA CERPEN REMAJA 2011 dan sertifikat penghargaan)
Kategori B. Guru, Dosen dan Umum
Juara I : Rp 1.500.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen PEMENANG LOMBA CERPEN REMAJA 2011 dan sertifikat penghargaan)
Juara II : Rp 1.000.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen PEMENANG LOMBA CERPEN REMAJA 2011 dan sertifikat penghargaan)
Juara III : Rp 500.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen PEMENANG LOMBA CERPEN REMAJA 2011 dan sertifikat penghargaan)
KETENTUAN KHUSUS:
WAJIB terdaftar sebagai peserta SEKOLAH MENULIS CERPEN ONLINE (SMCO)
KETENTUAN MENGIKAT
Keputusan DEWAN JURI tidak bisa diganggu gugat.
Panitia tidak MELAYANI SURAT-MENYURAT.
DEWAN JURI berhak membatalkan keputusannya, jika di kemudian hari diketahui karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain (plagiat)atau mengikuti lomba sejenis atau telah dimuat di koran/majalah.
HAK CIPTA tetap ada pada penulis, sedangkan PANITIA memiliki HAK untuk MEMPUBLIKASIKANNYA (membukukkannya).
Info Lengkap klik: menulisdahsyat.blogspot.com
NOMOR KONTAK:
085763208009

Lomba Penulisan Esai Islami (LPEI)

1. Peserta adalah perseorangan/individu
2. Naskah esai Islami harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Tema yang diangkat adalah “Penanaman Nilai Religi sejak Dini”
b. Panjang esai 3-5 halaman
c. Naskah esai diketik di kertas A4 dengan jenis huruf Times New Roman, ukuran 12, dan spasi 1,5. Margin atas, kanan, kiri, dan bawah 2 cm.
d. Naskah esai tidak menyinggung SARA
3. Uang pendaftaran lomba sebesar Rp 20.000,00 dibayarkan melalui Bank Syariah Mandiri nomor rekening 0610030438 a/n Formasi FIB UI atau diserahkan langsung kepada panitia pada waktu technical meeting untuk Lomba Nasyid dan Kaligrafi (24 Desember 2011)
4. Naskah dikirimkan melalui email ke alamat lomba_hifest@yahoo.com paling lambat tanggal 22 Desember 2011 beserta formulir dan scan bukti pembayaran lomba.
CP LPEI :
NINIS (085733026757)
ELIA (087837023383)

Lomba Penulisan Puisi Islami HIFEST 2011

Syarat dan ketentuan Lomba Penulisan Puisi Islami (LPPI)
Deadline: 22 Desember 2011
1. Peserta adalah perseorangan/individu
2. Naskah puisi Islami harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Tema yang diangkat adalah “Dimensi Religi Pembangun Peradaban”
b. Panjang puisi maksimal 3 halaman
c. Naskah puisi diketik di kertas A4 dengan jenis huruf Times New Roman, ukuran 12, dan spasi 1,5. Margin atas, kanan, kiri, dan bawah 2 cm.
d. Naskah puisi tidak menyinggung SARA
3. Uang pendaftaran lomba sebesar Rp 15.000,00 dibayarkan melalui Bank Syariah Mandiri nomor rekening 0610030438 a/n Formasi FIB UI atau diserahkan langsung kepada panitia pada waktu technical meeting untuk Lomba Nasyid dan Kaligrafi (24 Desember 2011)
4. Naskah dikirimkan melalui email ke alamat lomba_hifest@yahoo.com paling lambat tanggal 22 Desember 2011 beserta formulir dan scan bukti pembayaran lomba.
CP LPPI :
NINIS (085733026757)
YUVINA (085741973757)
Sumber: http://hifestformasifibui.blogspot.com/2011/11/lomba-penulisan-puisi-islami-lppi.html
Akun Facebookku error... Reset passwordpun ga bisa. Parah

Senin, November 07, 2011

Makna Warna Logo WR

1) Warna biru: melambangkan warna samudera dan langit: menyiratkan luas tak bertepi, hadir sebagai pemersatu (samudera) dan penaung (langit) para penulis semuanya.
2) Warna merah: melambangkan api yang bekobar, maknanya adalah semangat yang membakar untuk selalu belajar dan menjadi penulis terbaik, selalu bergelora untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas, dan bersemangat untuk mewujudkan visi bersama.
3) Warna putih: warna latar belakang logo Writing Revolution adalah putih yang melambangkan kesucian hati dan ketulusan cinta kepada sesama, yang mempererat rasa kebersamaan dan kekeluargaan di WR.
3) Globe: WR akan melalang buana ke seluruh penjuru dunia dan menjadi icon penulis modern Indonesia yang mendunia dan bersumbangsih bagi peradaban bangsa Indonesia dan dunia. Keanggotaan WR bukan hanya dari Indonesia tapi juga dari luar negeri.
Makna Tulisan WR: 1) Writing Revolution: organisasi pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berbadan hukum yang menjadi rumah kreativitas bagi segenap anggotanya, yang dalam eksistensinya akan selalu memberikan sumbangan pemikiran dan ideologi berupa tulisan (dalam berbagai bentuk cetakan dan media) untuk membangun peradabana bangsa Indonesia yang lebih maju dan berkarakter.
2) Menginspirasi Dunia: misi WR selalu akan memberikan pencerahan bagi segenap pembaca di Tanah Air khususnya dan masyarakat dunia umumnya, dengan mencetak penulis-penulis handal yang berkarakter keindonesiaan yang kukuh.

Minggu, Oktober 16, 2011

UNDANGAN IKUT ANTOLOGI PUISI BERTEMAKAN SOSIAL/ KEMANUSIAAN DL 31 NOV)

UNDANGAN IKUT ANTOLOGI PUISI BERTEMAKAN SOSIAL/ KEMANUSIAAN
KOMUNITAS RADJA KETJIL Jakarta mengajak dan mengundang para penyair di mana saja, pria wanita semua golongan/ kalangan dan segala usia untuk ikut bergabung dalam sebuah antologi puisi bertemakan sosial/ kemanusiaan yang direncanakan terbit pada awal tahun 2012 (15 Januari 2012).
Para penyair dipersilakan mengiirim sebanyak 10 (sepuluh) puisi yang akan diseleksi oleh tim editor yang ditunjuk.
Panjang setiap puisi maksimal 50 baris.
Puisi harus karya terbaru, ditulis antara tahun 2010-2011
dan harus tidak/ belum pernah dimuat dalam media apa pun.
Para penyair yang karyanya terpilih/ dimuat dalam buku, akan mendapat nomor bukti sebanyak 5 (lima) eksmplar buku.
Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: adri.darmadji@yahoo.com, paling lambat sudah harus diterima pada 31 November 2011.
Jangan lupa, sertakan juga biodata dan foto terbaru Anda.
Salam sastra!
Adri Darmadji Woko, B. Priyono, Dharmadi, Dharnoto, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie, Oei Sien Tjwan, PrijonoTjiptoherijanto & Rahadi Zakaria

AUDISI TRUE STORY OF JOMBLO: "STATUS" GALAU PARA JOMBLO

* DL 05 November 2011
* 25 kisah terpilih akan dibukukan dan penulis mendapat royalti, perjanjian menyusul.
Syarat dan Ketentuan:
1.Terbuka untuk anggota Writing Revolution dan umum, yang masih lajang alias jomblo GRATIS.
2. Tema: "STATUS" GALAU PARA JOMBLO, kisah sejati bagi para jomblo yang berjuang keras menghadapi berbagai tantangan hidup seperti jatuh bangun membangun cinta, merintis karier, menempuh pendidikan, dilema "menuruti keinginan" orang tua terhadap pilihan hidup (pendidikan, cinta dan pekerjaan) dan semua hal yang berkaitan dengan perjuangan hidup seorang jomblo untuk eksistensinya.
3. Kisah ini harus kisah sejati yang dialami sendiri yang dapat memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi pembaca.
4. Panjang naskah 4-6 halaman spasi dua, ukuran kertas A4, margin 3 cm/1,18 inci semua sisi. Biodata narasi maksimal 100 kata ditulis di bagian akhir tulisan.
5. Masing-masing peserta hanya boleh mengikutkan 1 TULISAN, yang belum pernah dipublikasikan atau diikutkan lomba.
6. Tulisan dikirim dalam attach file/lampirkan file ke email: antologijomblo@yahoo.co.id
7. Tulis di judul email: Antologi Jomblo#Judul#Nama Penulis
8. Koordinator audisi: Wahyu Ekasari Nugraheni Sari, Sherlly 'Ken Anaqah Hamidah dan Ugahari Nurul Utami.
9. Silakan sebar informasi ini sebanyak-banyaknya kepada teman dan kenalan FB kamu.
10. Terdaftar sebagai anggota Grup Penulis Jomblo Bahagia (Pejoba) klik di sini:
Sponsor
* Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO),
info lebih lengkap silakan klik di sini:

Senin, Agustus 22, 2011

aku memilih angin
ketika sayap-sayap langit tak mampu menerbangkan rindu menujumu

aku memilih ombak
ketika riak tak mampu layarkan perahu bintangku untuk menyapamu

aku memilih malam
ketika senja tak mampu lagi menyanyikan kidung cinta untukmu

Bilik rindu, 22:04

Minggu, Juli 31, 2011

Wajah-wajah Kayu Bapak


Judul : Wajah Wajah Kayu Bapak, Antologi Pemenangan Lomba Cerpen Remaja Nasional Writing Revolution, 2011

Penulis: Silananda, dkk

Terbit: Juli 2011

Tebal: 198 halaman

Penerbit: Leutikaprio

Harga: Rp. 42.000,00 ISBN: 978-602-225-040-1

Ongkos Kirim: Rp 10.000,- (Pulau Jawa) dan Rp 15.000 (Luar Pulau Jawa)



Deskripsi:

Antologi “Wajah Wajah Kayu Bapak” adalah kumpulan 30 nominator Lomba Cerpen Remaja 2011 yang diadakan oleh Writing Revolution. Dalam antologi ini, total berjumlah 32 cerpen, 30 cerpen nominator dan 2 cerpen dari dewan juri. Cerpen-cerpen dalam buku ini mengusung tema remaja dengan berbagai aspek permasalahan yang dihadapinya. Juga ada beberapa cerpen yang mengangkat tema lokalitas, isu masyarakat urban, pencarian jati diri, dan cinta. Topik yang diangkat sangat menarik dan relevan dengan kondisi di lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam buku ini, disuguhkan banyak aspek dari kehidupan dunia remaja. Yang bagaimanapun ternyata sangat kompleks. Hal ini sangat terkait dengan fase pertumbuhan mereka yang sedang mencari jatidiri. Poin menariknya, sebagian besar cerpen ini ditulis oleh penulis yang masih terbilang remaja. Sehingga mereka bisa mendefenisikan dengan baik gejolak remaja yang sedang mereka alami. Tentu hal ini semakin menguatkan posisi tawar cerpen ini dan layak untuk dibaca,



Pemesanan :

Cara Pembelian: Transfer uang pembelian termasuk ongkir: Rp 52.000 (Pulau Jawa) atau Rp 57.000,- (Luar Pulau Jawa) ke rekening LeutikaPrio: *Bank BNI: 0211238297, an. ROCHMAWATI, SE *Bank Central Asia (BCA): 8610169041, an. ROCHMAWATI *Bank Mandiri: 1370007536226, an. ROCHMAWATI *BANK SYARIAH MANDIRI (BSM): 0947033820, an. ROCHMAWATI Kemudian SMS data pembelian buku kamu ke nomor 0821 38 388 988 atau bisa kirim ke PESAN Facebook Leutika Prio (tulis judul "PESAN BUKU") yang berisi: Jumlah transfer # ke rekening Leutikaprio yang mana (BCA/MANDIRI/BNI/BSM) # tanggal transfer # Judul Buku yang Dipesan # Nama Lengkap # Alamat Lengkap (sampai pos/Tiki) # nomor HP/telpon. (*mohon data ini diisi dengan lengkap supaya selamat sampai alamat.

Minggu, Juli 24, 2011

BOCAH LAMPU MERAH

Tanpa banyak cakap, Obi segera berlari ke sepanjang jalur kiri jalan Jendral Ahmad Yani saat lampu trafficlight berubah merah. Bocah keling bertelanjang kaki itu, seolah tak mempedulikan hawa panas yang menguap dari jalan beraspal akibat terpaan matahari yang menyengat sepanjang siang hingga sore ini.
“Kak ...” sapa Obi dengan wajah memelas sembari mengulurkan mangkuk kecil usang ke arah pengendara sepeda motor dan mobil.
Cring ...
Bunyi kepingan uang logam meluncur masuk ke dalam mangkuk, tanpa ia perlu menunggu dalam waktu yang lama.
“Makasih Kak,” ujarnya dengan wajah sumringah. Yang hanya dijawab dengan satu anggukan kecil oleh para dermawan yang sebagian besar adalah mahasiswa.
Obi girang tak kepalang. Ia lalu berpindah dari satu pengendara ke pengendara yang lain. Seperti tak mengenal rasa malu, menadahkan mangkuk plastik kusamnya tanpa henti. Begitu seterusnya hingga lampu hijau kembali.
“Pulang yuk Bi. Udah hampir malam. Biasanya kalau jam segini orang-orang sering nerobos lampu merah. Nggak bakalan dapat kita,” kata Johan, teman seperjuangan Obi, ketika ia melihat sahabatnya asyik menghitung keping-keping recehannya di sisi trotoar.
“Bentar Jo,” jawab Obi singkat tanpa memalingkan muka ke arah Johan yang ikut mengambil tempat di sampingnya, dan mulai melakukan aktivitas yang sama.
“Dapat berapa?”
“Dua puluh dua ribu dua ratus.” satu senyum tersungging di bibir Obi.
“Banyaklah. Aku cuma sembilan belas ribu.”
“Alhamdulillah. Lumayan Jo, daripada nggak dapat sama sekali,” riang suara Obi terdengar.
@ @ @
Malam mulai merangkak turun. Meniggalkan siluet senja bersama keremangannya. Dengan langkah tergesa, Obi menyusuri jalanan berdebu menuju tempat tinggalnya. Sesekali ia berlari-lari kecil, berharap segera tiba di kediamannya, sebuah pondok buruk yang terbuat dari kardus dan karung bekas. Di sana, Ibeng, adiknya yang baru berusia lima tahun, pasti telah menanti.
Pondokan kecil itu telah tampak dari kejauhan. Gelap dan suram. Karena memang tak memiliki penerangan apa-apa, kecuali sebuah pelita kecil yang nyaris tak bisa menyala karena ketiadaan minyak tanah sebagai bahan bakarnya.
“Ibeng,” terdengar suara Obi di sertai bunyi pintu kardus terbuka.
Dengan hati-hati ia meletakkan sebuah kantong plastik kecil berwarna hitam di atas meja kayu.
“Ada bawa makanan Bang?” suara kecil milik Ibeng terdengar serak.
“Kenapa kau Beng? Aku dengar seperti habis menangis?” tanya Obi cemas seraya memberikan bungkusan yang dibawanya kepada adik tercinta.
“Lapar aku, Bang. Tak makan seharian,” sahut bocah kecil berumur lima tahun itu sambil melahap makanan yang dibawa Obi.
“Kan tadi Abang ada simpan duit di meja. Tak kau pakai untuk beli makanankah?”
Ibeng terdiam. Diteruskannya makan sambil sesekali melirik ke arah Obi.
“Kemana duit yang Abang tinggalkan tadi pagi?” tanya Obi penuh selidik.
“Diambil sama Wak Jago. Buat beli rokok katanya.”
“Brengsek Wak Jago,” Obi geram. Terdengar bunyi giginya gemeletuk.
Terbayang di matanya sosok Wak Jago, lelaki tinggi berisi dengan tatto rajawali di sekujur punggungnya. Lelaki yang ia benci karena tak pernah henti meminta uang kepadanya. Sekaligus ia hormati karena selalu menjadi pelindung mereka selama ini.
“Tak apalah Bang. Tadi Wak Jago sebenarnya bantu aku. Jadi aku kasih duit buat beli rokok,” jelas Ibeng.
“Bantu apa?” tanya Obi penasaran.
“Tadi ada bapak-bapak datang ke sini. Bawa pentungan. Kita yang tinggal di sini, disuruh pergi semua sama dia.”
“Untung ada Wak Jago. Tak jadilah kita disuruh pergi,” jelas Ibeng penuh senyum sambil menceritakan kehebatan Wak Jago dalam bernegosiasi.
Obi tertegun mendengar penjelasan Ibeng barusan. Selera makannya menguap seketika. Bagaimanapun jua, ia paham bahwa yang datang tadi pagi pasti petugas penggusuran bangunan tanpa izin yang didirikan di tanah milik pemerintah.
Bocah kecil itu termangu. Kepalanya sontak berdenyut saat membayangkan rumah mereka harus digusur lagi, untuk kesekian kalinya.
Harus pindah kemana lagi? Bisik hati Obi sembari menatap iba ke arah Ibeng yang tengah sibuk membereskan sisa makannya. Terbayang di matanya bagaimana ia dan adiknya bertahan selama beberapa tahun menghadapi kerasnya kehidupan. Hanya berdua, sambil menanti ibu yang telah lama pergi dan ayah yang tak kunjung kembali.
Obi menggeleng berkali-kali.
“Kemana Bang?” tanya Ibeng begitu melihat Obi bergegas keluar dari rumah kardus mereka.
“Keluar. Cari Wak Jago. Kau tidurlah dulu,” jawab Obi tergesa.
Ibeng menatap kepergian Obi tanpa bersuara. Dari balik dinding, ia memandangi punggung Obi hingga menghilang di balik kegelapan.
@ @ @
Hawa panas masih saja setia menemani siang di penghujung bulan Februari. Matahari yang bersinar terik ditambah debu-debu yang beterbangan semakin membuat tanah Khatulistiwa seolah tak bersahabat.
“Kalau mau mati lompat aja dari tol Kapuas, jangan di jalan!” hardik seorang pengendara sepeda motor kepada Obi yang berdiri mematung di perempatan jalan Diponegoro.
Ia terkejut. Pikirannya seolah kosong hingga ia tak mengindahkan suara klakson kendaraan yang melintas di hadapannya ketika lampu telah kembali hijau. Dengan cekatan Obi melambaikan tangan ke arah pengendara yang melintas, lalu melompat ke trotoar di pinggiran jalan. Dari ekor matanya, ia melihat Johan berlari-lari ke arahnya.
“Gawat Bi. Kampung kita digusur,” jelas Johan dengan nafas tersengal.
Obi terkesiap. Kata-kata itu menyambar dengan cepat memasuki gendang telinganya. Ia menatap Johan dengan pandangan tak percaya.
“Serius kau Jo?” tanya Obi tak yakin.
Johan mengangguk cepat.
Tanpa komando, kedua bocah kecil itu segera berlari sekuat tenaga menuju ke arah kampung mereka.
“Tadi malam aku tanya Wak Jago, katanya, mereka ngasih kita waktu sehari semalam untuk pindah. Kenapa sekarang kita diusir?” kata Obi sambil terus berlari menembus kepadatan lalu lintas.
“Entah,” Johan hanya mengangkat bahu.
Obi berlari membabi buta. Hatinya diliputi kecemasan. Cemas membayangkan Ibeng yang ia tinggalkan sendiri di rumah kardus mereka.
Bodoh kau Bi. Coba saja tadi kau bawa Ibeng serta, rutuknya dalam hati sambil memperlambat larinya karena kampung mereka mulai terlihat.
Kedua anak kecil itu berusaha menembus kerumunan orang yang menyaksikan proses penggusuran lahan. Johan mengibas-ngibaskan kedua tangannya untuk menenbus keramaian. Sementara Obi berteriak-teriak menyerukan nama Ibeng. Tangis, teriakan, dan kemarahan membaur jadi satu, menelusup hingga ke pori-pori membuat mereka merinding.
“Ibeeeeeeeeeng,” Obi berteriak semampu yang ia bisa.
Bulir-bulir air mata mengalir deras di pipinya yang legam, mendapati rumah kardusnya rata dengan tanah dan adik kecilnya menghilang entah kemana.

Selasa, Juli 19, 2011

Hold My Hands By maher zain




Hold My Hand
Album : Thank You ALLAH
Munsyid : Maher Zain
http://liriknasyid.com


I hear the flower's kinda crying loud
The breeze's sound in sad
Oh no
Tell me when did we become,
So cold and empty inside
Lost a way long time ago
Did we really turn out blind
We don't see that we keep hurting each other no
All we do is just fight

Now we share the same bright sun,
The same round moon
Why don't we share the same love
Tell me why not
Life is shorter than most have thought

Hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let's pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you

Children seem like they've lost their smile
On the new blooded playgrounds
Oh no
How could we ignore
heartbreaking crying sounds
And we're still going on
Like nobody really cares
And we just stopped feeling all the pain because
Like it's a daily basic affair

No matter how far I might be
I'm always gonne be your neighbor
There's only one small planet where to be
So I'm always gonna be your neighbor
We cannot hide, we can't deny
That we're always gonna be neighbors
You're neighbor, my neighbor
We're neighbors

So hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what have left behind

So hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let's pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you

Maher Zain - Insha Allah | Insya Allah | ماهر زين - إن شاء الله

Kamis, Juni 30, 2011

Tak Kan Pernah Henti

aku mengeja purnama biru dalam untaian namamu
huruf-huruf menjerit gelisah
sayap-sayap langit nyaris berlalu dalam resah
namun dirimu masih enggan serukan namaku

aku mengeja mentari senja dalam untaian rindumu
kata-kata berlompatan gulung menggulung
memaksa senja berbelok menikung
namun rindumu masih enggan memeluk rinduku

aku mengeja pelangi jingga dalam hatimu
kalimat berhamburan menyemburat makna
melengkungkan warna serimbun pesona
namun hatimu masih enggan membiaskan hatiku

tapi aku takkan pernah berhenti mengejamu
walau langit membisu
walau senja habis digulung waktu

Bilik rindu, 28 Juni 2011
21:52 WIB

Layakkah Kita menggugat???

Untuk diri yang merasa tidak puas,
Allah menguji setiap hamba hingga titik terlemahnya yang paling dalam. Ketika kita melihat, merasa dan mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, memang terasa sakit. Menohok. Tapi, layakkah kita menggugat???
Coba tengok kembali usaha yang telah kita lakukan selama ini!
Sudahkah usaha itu maksimal???
Sudahkah usaha itu sesuai dengan jalan yang di ridhoi-Nya???
Jika iya, maka itu adalah satu ujian yang dimaksudkan untuk menempa kita sebagai pribadi yang ikhlas. Ikhlas dengan ketetapan yang telah ditentukan-Nya.
Namun, jika tidak. Maka itu adalah suatu teguran yang menunjukkan betapa Allah sangat menyayangi kita.
Kepada diri yang merasa tidak puas,
Sungguh, Allah tidak akan memberikan cobaan yang kita tidak mampu menanggunggnya. Lalu, layakkah kita menggerutu???
Terlalu naif rasanya jika kita hanya duduk diam, menangis, dan menggerutu sambil merenungi nasib. Sebab, kehidupan tidak terhenti sampai di sini. Perjuangan kita akan terus berlanjut dengan medan yang semakin berat. Hari-hari kita akan dilalui dengan peperangan yang lebih dahsyat. Maka, layakkah kita menangis dalam keputusasaan???
Wahai diri yang merasa tidak puas,
Seseorang yang siap untuk sukses, juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kegagalan. Bukan pesimis. Tapi, berdamai dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan takut gagal. Karena sesungguhnya, kegagalan itu adalah wajah sukses yang sedang cemberut. Dan keberanian kita untuk menghargai diri sendiri serta usaha terbaik yang kita lakukan, adalah awal dari kebahagiaan.
Berusahalah, karena usaha yang kita lakukan akan berbanding lurus dengan hasil yang kita peroleh.


Bilik rindu, Juni 2011
23:14 WIB

Rabu, Juni 29, 2011

Sayap Patah

Hujan merebah
Menangisi sayapku yang patah sebelah
Titik air yang mengigau sendu
Menjepitku pada sudut paling ngilu
Aku berjalan tertatih
Membujuk hati yg lelah dipecundangi perih

Minggu, Juni 12, 2011

Hmmm

Baru selesai kegiatan Pedasmen III FLP KALBAR.
Capek, tapi Seru..............

Jumat, Juni 10, 2011

Tempat Terakhir (Diikutsertakan pada Event Cerita Bersoundtrack)

Kata-kata lugas nan romantis yang tertera di kertas pink itu membekukan syarafku untuk beberapa waktu. Mataku bergerak cepat, seolah tak ingin melewatkan satu huruf pun dari rangkaian kalimat yang tergores indah di sana. Berulang kali, aku membacanya dengan seksama untuk memastikan bahwa aku tidak salah.
Syifa yang baik,
Aku bermimpi berjalan di sebuah taman yang indah. Pepohonan yang menghijau dengan sungai-sungai jernih yang mengalir di bawahnya. Entah kenapa, aku merasa seperti berada di surga.
Meskipun aku disurga, mungkin aku tak bahagia. Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu. Aku ingin kau menjadi bidadariku di sana. Tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian .
Bersediakah Syifa?
Jantungku melompat, dan membuat aliran darahku menderas bak anak sungai pada musim penghujan. Sesaat kemudian, aku melayang. Terinduksi oleh hormon GR yang meningkat tajam akibat surat singkat yang diberikan kepadaku tadi pagi.
Dia melamarku, benarkah?
Tolong koreksi jika aku salah. Tapi rasanya hormon GR itu tidak lantas membuatku idiot seketika. Dari kata-katanya, aku yakin bahwa Erland, jejaka tampan itu, melamarku. Jika saja aku tidak mengingat usiaku saat ini, ingin rasanya aku berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Aku lantas tersenyum. Memaksa memoriku untuk kembali pada peristiwa dua bulan silam, ketika aku bertemu dengannya pada acara pernikahan sepupuku. Di sana, untuk pertama kali aku melihatnya.
“Erland,” ia memperkenalkan diri sembari menatapku dengan tatapan tajam yang membekukan langkahku.
Seketika aku merasakan getaran itu. Gempa dahsyat berkekuatan sembilan skala richter yang mengguncang hatiku. Lebih dahsyat dibanding gempa yang pernah mengguncang Mentawai beberapa waktu yang lalu. Aku lantas memberanikan diri membalas tatapannya, dan aku menemukan sepasang mata rajawali di sana.
“Syifa,” balasku dengan suara bergetar.
Ia tersenyum kepadaku. Menyentak aliran darahku. Dan pada detik itu juga aku merasakan hantaman tsunami Jepang berpindah ke hatiku.
# # #
Mukaku bersemu merah, ketika dua pasang mata milik Abah dan Ibu menatapku. Mereka menanti alasan yang siap meluncur dari mulutku yang sedikit terbuka. Aku mencoba merangkai kata yang berlompatan di dalam otakku, sembari menenangkan diri akibat degup jantung yang tak menentu. Lelah aku berusaha mengemukakan alasan penerimaanku atas lamaran Erland. Hingga akhirnya, aku menyadari bahwa aku memang tak punya alasan yang cukup untuk itu.
“Kamu pasti bercanda,” tawa Abah terdengar keras.
Aku menatap Abah lekat-lekat, “Aku tak pernah lebih serius dari ini.”
Abah terperangah, “Punya modal apa dia, sehingga berani melamar gadisku yang paling cantik?”
Aku hanya diam, karena memang tak tahu harus berkata apa. Entah kenapa, aku merasa tak punya alasan-alasan spesifik yang mendukung keputusanku. Aku bahagia bersamanya. Dan bagiku itu sudah lebih dari cukup.
“Bagaimana kalau aku tak setuju?” tanya Abah menyambarku hingga ke ubun-ubun.
“Kalian tak sekufu,” lanjutnya sebelum aku sempat melontarkan pertanyaan.
“Dia baru jadi sarjana sedangkan mastermu sudah selesai.”
“Kau direktur, dan dia hanya pegawai biasa.”
“Tapi Erland lelaki yang baik, Bah,” aku coba mambantah.
“Aku yakin dia bisa menjadi imam yang baik untukku dan keluargaku nanti.”
“Kalau hanya baik, itu tidak cukup,” ujar Abah sambil membuang muka.
“Sayang, siapa pun boleh datang melamarmu, tapi jawabanmu tak harus iya, kan?” Ibu mencoba menetralisir keadaan.
“Abah benar Nak. Pikirkan baik-baik, menikah itu hanya untuk sekali dalam seumur hidup, dan Ibu tak mau kau salah pilih!”
Aku marah. Air mataku merebak. Menyesalkan alasan mereka yang menurutku sangat tidak masuk akal. Tahukah mereka bahwa Erland mampu membiayai kuliahnya sendiri sejak terdaftar sebagai mahasiswa semester pertama? Tahukah mereka bahwa Erland yang hanya pegawai biasa tapi memiliki banyak keterampilan yang luar biasa? Mereka tak tahu. Tepatnya, tak mau tahu!
Lalu, atas dasar apa mereka boleh menilainya dengan parameter seperti itu? Apakah kekurangannya sekarang dapat dijadikan ukuran keberhasilannya di masa datang?
Rabb, aku hanya ingin jatuh cinta sekali saja. Dan aku telah menjatuhkan cintaku pada Erland. Apakah aku salah? Apakah cinta harus selalu ditimbang untung ruginya seperti ini?
Aku tak kuasa lagi menahan tangis. Menyadari bahwa ketidaksukaan mereka pada Erland ternyata sudah sangat parah.
# # #
“Rabb, aku tahu bahwa ridho-Mu ada pada ridho orang tuaku. Dan murka-Mu ada pada murka mereka. Aku mencintai Erland, tapi aku juga mencintai orang tuaku. Jika cinta ini akan mendatangkan kebaikan padaku, maka dekatkanlah. Namun, jika Engkau belum mengizinkanku untuk bersamanya, maka tolong jauhkan ia dengan cara-Mu.”
“Amin,” bisikku lirih.
Aku mengusap muka dengan kedua tangan. Menyudahi doa panjangku sambil menyeka air mata yang sejak tadi mengalir tiada henti. Habis sudah rasanya energiku terkuras untuk meluluhkan hati Abah dan Ibu. Namun, hingga detik ini belum kujumpai titik terang.
Aku termenung. Sibuk memikirkan kata-kata Erland tadi siang ketika kami sengaja bertemu usai rapat di kantorku.
“Mungkin ini memang yang terbaik Syifa.”
Aku tak percaya mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Menyerahkan ia?
“Kenapa kau tak mau berjuang bersamaku?” tanyaku marah.
“Kita sudah mencoba, Syifa. Dan sekarang biarkan Sang Pemegang Kuasa yang memutuskan.”
“Lalu, bagaimana kelanjutannya?” aku penasaran.
“Saling membebaskan, karena kita belum punya ikatan apa-apa,” jawabnya tegas. Untuk sesaat aku membenci Erland, sekaligus semakin mengagumi kebesaran jiwa pemuda itu.
Hhh ...
Mungkin Erland benar. Belum saatnya.
Aku tersenyum. Lekas kuambil pena dan mulai menulis.
Erland yang baik,
Kau adalah bagian hidupku, dan aku pun menjadi bagian hidupmu yang tak terpisahkan. Bila nanti aku kehilangan, mungkin itu hanya sesaat. Karena kuyakin kita kan bertemu lagi.
Besediakah Erland?
# # #


Bilik Rindu, 09 Juni 2011

Jumat, Juni 03, 2011

Balada Sayur Bening

“Hari ini masak sayur bening ya?”
Aku menatap heran ke arah suamiku yang sibuk memasang dasinya.
“Nda mau ah.”
“Perasaan dua hari yang lalu udah sayur bening. Masa hari ini sayur bening lagi?”
“Emang Abang nda bosan?”
“Nda tuh,” jawabnya singkat.
“Sayur bening buatanmu tak ada duanya.”
Aku tersenyum simpul. Tersanjung mendengar pujian suamiku yang memang jarang memuji.
“Sambal tomatnya jangan lupa. Pakai terasi,” bisiknya sambil mengecup pipiku seraya pamit ke kantor.
“Oh, no. Itu lagi,” aku manyun membayangkan dua musuh bebuyutanku kembali terhidang di meja makan.
“Tolong ya sayang.”
Aku hanya menggeleng manja. Setengah tak rela jika hari ini harus berjibaku dengan menu itu lagi.
# # #
Bang Haris duduk manis menghadap meja makan. Kuperhatikan, sedari tadi ia hanya memainkan sendok di piringnya.
“Sayur beningnya nda ada ya?” tanyanya di sela suapan yang ketiga.
Aku menggeleng mantap.
“Sekali-kali pajeri nanas.”
Ia hanya tersenyum kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala dan sesekali melirik ke arahku. Mesra.
“Adek kenapa nda makan? Sini aku suapin.”
Aku jengah. Tapi, tak urung membuka mulut.
“Mmm, besok adek masakin sayur bening aja ya, Bang,” ujarku sesaat kemudian ketika merasa bahwa masakanku benar-benar tak layak telan.
Bang Haris tertawa seraya mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi.

Selasa, Mei 17, 2011

Cenat-cenut

Tak terdefinisi...
Rasanya benar2 aneh...

Wahai Allah,
Engkaulah pemilik hati beserta segala rahasianya
Janganlah Engkau jadikan kerinduan ini sebagai sebuah kerinduan yang tersia2

Selasa, Mei 10, 2011

Sebuah Permintaan (Diikutsertakan pada FF POLIGAMI)

Aku melihat ke arah Nash dengan pandangan heran. Hatiku setengah tak menyangka bahwa ia mau menyempatkan diri menjemputku sepulang dari kelas tahsin sore ini. Berdua, kami menyusuri jalan setapak yang menghubungkan tempat belajarku dengan taman kenangan. Taman bunga yang indah tempat nongkrong favorit kami sewaktu kecil dulu.
“Aku perlu bantuanmu,” ujarnya mengawali percakapan saat kami hanya berpandang-pandangan dalam diam.
Aku merasa tak perlu menjawab, karena aku tak pernah bisa menolak permintaannya. “Key.”
Aku mengangkat kepala, “Kamu perlu bantuan apa?” tanyaku heran pada Nash, Mrs. Perfecto yang selalu merasa tak pernah memerlukan bantuan orang lain.
Ia terdiam sejenak. Meremas-remas jemarinya yang lentik sambil memandangku gelisah.
“Aku ingin kau menikah dengan Firaz.”
Aku terbelalak. Terlalu keget untuk meyadari bahwa kata-kata itu keluar dari bibir mungil milik Nasha.
Nash yang tak pernah rela jika mainannya kupinjam, Nash yang selalu berang jika ia tahu aku menggunakan barang miliknya, sekarang justru memintaku untuk menikah dengan Firaz. Ia pasti sudah gila.
“Jangan gila kamu Nash!” seruku setengah melotot.
“Aku memang hampir gila Key,” suaranya terdengar serak.
Aku diam menanti penjelasannya.
“Aku tak bisa punya anak. Aku mandul Key. Tapi Firaz menginginkan seorang anak,” wajahnya menegang sesaat.
“Lalu kenapa harus aku, Nash?”
“Aku tak punya pilihan Key. Daripada aku membagi Firaz dengan perempuan lain. Aku lebih rela jika harus membagi suamiku dengan kamu.”
Aku tertawa getir.
Memintaku menikah dengan Firaz setelah...
Oh tidak, terima kasih.
Tolong aku Key,” ia memohon.
“Aku perlu jawabanmu sekarang.”
Aku terdiam beberapa saat seraya berpikir. Lalu dengan mantap menggelengkan kepala.
“Bukankah kamu mencintainya Key?” ia bertanya penuh selidik.
“Aku memang pernah mencintainya. Tapi itu dulu, sebelum ia menikah denganmu.”
“Lalu kenapa sekarang kamu menolak?”
“Karena aku belum gila untuk menikah dengan saudara iparku sendiri!” seruku geram dengan suara meniggi.
Ia tergugu, “Maafkan aku Key. Aku telah merebutnya dari kamu.”
Aku menggeleng.
“Kamu tidak merebutnya. Dia yang memilihmu,” ujarku penuh luka.
Terbayang dimataku saat Firaz tak pernah melayangkan kontrak ta’arufnya kepadaku. Tapi justru kepada Nasha. Saudara kembarku.
Hhhh....
Semua masih terlalu pahit untuk dikenang. Bagaimana meriahnya perhelatan pernikahan mereka digelar. Bagaimana terharunya aku ketika mahar berupa Surah Ar Rahman itu mengalir syahdu dari mulut Firaz. Sahabatku yang diam-diam aku cintai.
Tapi semua itu untuk Nasha. Bukan untukku.
“Maafkan aku Nash. Untuk kali ini, aku tak bisa membantu.”
Ia terkejut mendengar penolakanku.
“Aku pernah terluka Nash. Rasanya terlalu sakit.”
“Aku tak ingin kau merasakan kesakitan yang sama,” ucapku pelan, berharap ia mengerti.
------------------------------------------------------------------------------------


Lomba FF 400 kata bertema POLIGAMI (deadline 20 mei)
oleh Lily Husain pada 07 April 2011 jam 20:18
Dikutip dari http://www.facebook.com/notes/ratna-dwi-kumala-sari/lomba-ff-400-kata-bertema-poligami-deadline-20-mei/10150256776564619
oleh Leyla Imtichanah pada 31 Maret 2011 jam 22:22
Dalam rangka syukuran kelahiran novel terbaru saya, meskipun hanya diterbitkan secara indie, saya mau berbagi kebahagiaan dengan rekan-rekan semua.
Ungkapkan perasaan teman-teman terhadap POLIGAMI, dengan menulis sebuah cerpen pendek atau Flash Fiction, sebanyak 400 kata, dengan judul. Misalnya, suami mengancam mau nikah lagi, atau sudah menikah lagi, atau dari sudut pandang istri pertama, istri kedua, istri ketiga, atau dari orang-orang terdekat yang melihat kehidupan poligami, dan seterusnya. Boleh pro, boleh kontra.
Persyaratan:
1. Jumlah kata harus tepat 400 dengan judul, tema Poligami.
2. Tulis di notes FB, dengan menyertakan info lomba ini dan info novel Hati Bidadari (sinopsis dan kaver).
3. Tag 25 temanmu, termasuk Leyla Imtichanah.
4. Kirim FF dan biodata penulis (nama, alamat, telepon, imel) ke: leyla.hana@yahoo.co.id.
Hadiah
3 Orang Pemenang akan mendapatkan Paket Buku dan Gratis Konsultasi Menulis Novel via imel selama sebulan
50 FF terbaik, insya Allah akan dibukukan.
Deadline, 20 Mei 2011



Alhamdulillah....
telah terbit novel terbaruku

HATI BIDADARI

Pernah dimuat secara bersambung di Majalah KARTIKA, tahun 2005

Tebal 112 Halaman
Kertas HVS 70gr
Ukuran 14 x 21 cm
Harga 40.000

Bagaimana rasanya dicintai oleh lelaki yang telah beristri dan memiliki dua orang anak?
Fairy menganggap Suryo sebagai bapaknya sendiri, tetapi Suryo menganggapnya sebagai wanita dewasa yang layak untuk dicintai.
Hati tak dapat dibohongi. Pesona Suryo membius Fairy, hingga melemparnya ke dalam jurang cinta yang dalam.
Fairy dan Suryo saling jatuh cinta.
Sanggupkah Fairy berbahagia di atas penderitaan istri dan anak-anak Suryo?
Ternyata, menjadi wanita kedua pun tidak mudah....

Bagi yang berminat, silakan sms ke no: 021 993 67 327, dengan Bang Anas.

Rabu, April 20, 2011

AKU VS MBEEEEEK




“Kalian dari mana?” tanyaku pada lima pemuda berbatik biru yang terengah-engah pasca melintasi lapangan volly.

“Lihat kambing bu,” jawab mereka.

Mataku melotot.

“Apa?” ulangku ingin memastikan pendengaran.

“Lihat Pak Satyo nyembelih kambing bu.”

Kata-kata mereka sontak menyulut amarahku. Suatu alasan yang benar-benar tak logis. Mengabaikan ulangan mid semester yang aku janjikan hanya karena.....

Allah, aku tak dapat berkata-kata. Egoku terluka, saat masuk kelas dan mendapati kelasku lengang. Hanya tersisa siswa putri dan lima orang siswa putra, di sana.

Ada apa dengan generasi muda Indonesia sekarang?

“Maaf bu.” Wildan sang ketua kelas berkata.

“Kami ngaku salah.”

“Kambing lebih penting daripada mid?”

“Bukan gitu Bu. Kami kasihan sama Pak Satyo.”

“Iya, tapi kalian bisa bantu nanti setelah selesai mid.”

“Ndak ada yang bantu pegangin kambingnya, Bu,” sela Mamat siswa favoritku.

“Kambingnya mau dipakai siang ini. Tapi kakak-kakak yang biasa bantuin Bapak ndak ada. Jadi kami yang bantuin.”

Terbayang wajah Pak Satyo dimataku. Lelaki renta berumur hampir tujuh puluh tahun yang bertugas sebagai pengurus asrama putra sekaligus merangkap koki asrama. Ah, pasti beliau kewalahan menghadapi beberapa ekor kambing yang akan dijadikan hidangan utama pada acara syukuran siang ini.

So sweet. Pantaskah aku menghukum mereka karena hal ini? Hatiku yang melankolis bernyanyi.

Harus dihukum, karena mereka mengabaikan kewajibannya, egoku yang rasional menyela.

Hhh......

“Oke, alasan kalian Ibu terima. Tapi hukuman tetap berlaku,” ujarku sambil menatap mereka, tajam.

“Siaaaaapppp,” koor mereka serempak setelah terdiam beberapa saat.

N I N G


“Jadi, peta konsep adalah suatu strategi untuk menampilkan bahan ajar dengan...” kalimatku terputus ketika Wirna mengangkat dan menghadapkan hp nya tepat di depan wajahku.

Busyet, lagi presentasi masih bisa smsan, batinku. Tapi tak urung, kubaca isi sms itu.

“Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Mohon do’a dari teman-teman semua untuk almarhumah adik kami, Ning, yang telah berpulang ke rahmatullah....” isi pesan singkat itu hanya setengah yang terbaca olehku. Karena, seingatku lanjutan sms itu tak terlihat oleh mataku yang penuh dengan air mata yang siap tumpah.

Ruang kelas hening sesaat. Dosenku mengambil kebijakan untuk menyampaikan berita duka itu, ketika melihat Wirna menangis sesenggukan disampingku.

Aku hanya diam mematung sementara tangis telah pecah di ruang kelasku yang tak seberapa besar.

Mati rasa kah aku? Tidak. Justru aku adalah orang yang sepatutnya sangat bersedih atas kejadian itu. Karena aku adalah karibnya.

Ia adalah seseorang yang selalu memotivasiku untuk mengenakan jilbab.

“Belum siap,” demikian alasanku ketika itu.

Ia hanya mencibir sambil lalu, “Kapan siapnya?”

Dan pertanyaan itu masih membekas hingga saat ini.

Ia juga yang selalu memaksaku menambah jumlah hafalan surah At Taubah jika aku kepergok mengerling abang-abang kece di kampus.

“Hayo, lihat abang itu lagi kan? Iqobnya nambah dua ayat!” katanya sambil memelototiku dengan matanya yang indah.

Aku yang tomboy hanya tertawa, “Rezeki mata, Ning.”

Ia hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.

Ning, adalah teman, sahabat, dan saudara. Kepadaku, ia sering bercerita tentang impian-impiannya. Tentang targetnya untuk menikah pada semester empat, ketika usianya genap dua puluh tahun.

“Ovariumku tinggal satu Dien, kalo aku nda nikah cepat-cepat nanti aku nda bisa punya anak.” Demikian jawabnya renyah ketika kutanya alasannya. Kemudian ia memperlihatkan foto hasil USG satu-satunya ovarium yang masih dimilikinya yang juga telah terinfeksi.

Allah. Miris hatiku tiap kali mengingatnya.

Bertahun-tahun ia berjuang melawan penyakit itu. Prokista ovari stadium lanjut yang kemudian diperparah oleh kanker serviks. Kedua penyakit itu menyebabkan ia harus menjalani kemoterapi berkali-kali, hingga wajah cantiknya tampak tirus. Dan tubuhnya hanya tinggal tulang berbalut kulit.

Sungguh sebuah perjuangan yang berat. Tapi, Ning melewati semua itu dengan senyum.
“Allah mengujiku dengan ini, karena Ia tahu bahwa aku mampu melewatinya.” Kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Dan kata-kata itu pula yang selalu menguatkan aku hingga kini.
Ning, yang menitipkan kekuatan itu kepadaku.

Selasa, April 19, 2011

Dream High (OST) - Dream High Dance Routine/Dance-A-Long [Mirrored]




I Dream High nan kkumeul kkujyo
Hindeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo

Duryeoumeui kkeuteseo nan
Oneuldo heundeullijyo
Tteorejilkka bwa naraoreuji mothaneun
Eorin saecheoreom

Jakku naega hal su inna
Nae kkumi irweojilkka
Naeditneun georeum han georeum georeumi dashi
Duryeoweo jil ttaemada

I Dream High nan kkumeul kkujyo
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
http://awansetya18.blogspot.com/
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo

I can fly high naneun mideoyo
Eonjenganeun jeo haneulwiro
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi nara oreul geoeyo

Neomeojin nal ireukkyeo jul
Yonggiga phiryohajyo
Meonjireul teolgo dashi ireona tto han beon
Ttwieogal yonggiga

Dashi han beon nareul midgo
Naeui unmyeongeul midgo
http://awansetya18.blogspot.com/
Modeun geol geolgo nae kkiboda nopeun byeogeul
Ttwieo neomeulgeoeyo ~Oh

I Dream High nan kkumeul kkujyo ( kkumeul kkujyo )
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ( dashi ) ireonajyo ( Oh )

I can fly high naneun mideoyo
Eonjenganeun jeo haneulwiro ( jeo haneulwiro )
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi ( nan ) nara oreul geoeyo

Dream high a chance to fly high
Apeumdeureun ijen modu da bye bye
Haneure inneun jeo byeoldeul
Cheoreom nopi narabwa ni kkumdeureul
Pyeolchyeo boneun geoya time for you to shine
Ijebuteo shijagiya gotta make ‘em mine
http://awansetya18.blogspot.com/
Ni soneuro irweoga mirael duryeoweo hajima
Ijen himkkeot jashinitge georeoga
Destiny sukmyeongiji meomchul su eopneun
Unmyeongi jigeum uri nunape pyeolchyeojiji
Igeon neoreul wihan whole new fantasy
Geureoni ijebuteo yeogi soneul jaba
Urieui mikpyoneun jigeumbuteo hana
Kkumgwa mirae pogi haji anha
Jeolmeum yeoljeong yeogi moduda Dream High

I Dream High nan kkumeul kkujyo ( kkumeul kkujyo )
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo ( nuneul gamgo )
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo ( Oh )

I can fly high naneun mideoyo ( mideoyo )
http://awansetya18.blogspot.com/
Eonjenganeun jeo haneulwiro ( jeo haneulwiro )
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi nara oreul geoeyo

Suzy - Only Hope (Finale)





There’s a song that’s inside of my soul.
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold.
But you sing to me over and over and over again.
So, I lay my head back down.
And I lift my hands and pray
To be only yours, I pray, to be only yours
I know now you’re my only hope.
Sing to me the song of the stars.
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again.
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that you have for me over again.
So I lay my head back down.
And I lift my hands and pray
To be only yours, I pray, to be only yours
I know now, you’re my only hope.
I give you my destiny.
I’m giving you all of me.

[Dream High] IU + Miss A Suzy + 2PM Taecyeon + Kim Soo Hyun - Tell Me Y...

Sabtu, April 09, 2011

JIKA

Jika kematian
Adalah akhir dari segala
Maka…
Dengannya ku akan bahagia
Jika kematian
Adalah awal dari segala
Maka…
Dengannya luruhlah air mata
Jika kematian
Adalah akhir dari sua
Maka…
Kulepas ia dengan luka
Jika kematian
Adalah awal dari jumpa
Maka..
Kusambut ia dengan segenap cinta

Biru ku Buram




Tegak ku dalam biru yg memburam
Sepi ku dalam hitam yg mencekam
Asa masih tetap menyala
Namun cinta tlah habis tiada sisa

PERJALANAN SUNYI


“Sebulan lagi adikmu menikah. Kamu kapan?”  
Aku terdiam mendengar pertanyaan Abah barusan. Pertanyaan yang sama seringkali dilontarkannya dalam beberapa tahun belakangan.
“Belum tau.”
“Masa’ belum punya rencana?”
“Gimana mau nikah, calonnya aja nggak ada.”
“Emang bisa asal comot lelaki di pasar buat diajak nikah?,” jawabku kesal.
 “Nanti orang-orang jadi malas mau pergi ke undangan kita. Tiap tahun ada  saja yang nikah.” Abah tak mau kalah.
 “Itukan resiko. Abah punya anak perempuan lebih dari satu. Wajarkan.”
“Kalau bisa, kamu juga sekalian,” kata beliau setelah menimbang beberapa jenak.
 “Masih ada waktu satu bulan. Kau carilah. Kau punya banyak teman lelaki. Tak mungkin satu pun tak ada yang cocok.”  Lelaki itu menghembuskan asap cerutunya disela pembicaraan.
“Jangan terlalu pemilih, Rey.” Mak berkata lembut.
“Dan jangan sampai kau dilangkahi lagi oleh adikmu.”
Duggg...!!!!
Kata-kata Mak telak menghantamku.
“Yang pemilih itu abah. Bukan aku!!” lanjutku geram sambil berlalu.
Seandainya saja tujuh tahun yang lalu Abah menerima lamaran Reza, mungkin saat ini aku sudah beranak pinak. Menghadirkan dua atau tiga orang cucu dalam kehidupan Abah dan Mak. Dan tentu tak harus terbebani oleh kata-kata lembut wanita itu. Juga tak harus pontang-panting mencari calon dalam waktu satu bulan.
Tapi, apa hendak dikata, Abah menolak dengan alasan Reza bukan keturunan bangsawan sepertinya. Lelaki aristokrat itu tak rela jika gelar kebangsawanannya terputus pada kami, ketiga anak perempuannya.
Aku sempat menangkap pancaran sedih dimata Reza. Lelaki baik hati itu terluka.
“Tak apa Bah. Mungkin saya bukan yang terbaik buat Rey.” Reza menjawab penolakan Abah dengan tenang.
Jangan kau tanya bagaimana perasaanku kala itu. Terlalu sakit, sehingga tak mampu berkata apa-apa. Bahkan, untuk beradu argumen seperti yang kerap kali kulakukan pun, aku tak sanggup.
Berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Berharap Abah berubah pikiran. Tapi hasilnya, nihil. Abah tetap tak bergeming dengan keputusannya. 
Dan aku selalu berharap, keajaiban itu datang. Hingga saat ini, di titik usiaku yang paling rawan, dua puluh sembilan tahun, aku masih harus meniti hidupku sendiri. Dalam sunyi.

Sabtu, Februari 05, 2011

Jangan Bunuh Hati Anda !!


Jika Anda bersedih, maka menangislah. Jika Anda bahagia, tersenyumlah. Dan jika Anda teramat senang dan gembira, maka tertawalah.

Jangan paksakan diri Anda untuk tidak menangis, jangan bungkam mulut Anda untuk tidak tersenyum ataupun tertawa.

Karena jika Anda lakukan, maka Anda akan membunuh hati Anda secara perlahan. Akibatnya hati Anda akan kering dan gersang.

Percayalah, pada saat itu Anda tidak akan merasakan kebahagiaan. Karena hati Anda telah kering dan membatu, bahkan lebih keras dari batu, karena batu masih ada yang mengalirkan mata air yang sangat bermanfaat bagi manusia.

sumber : Refleksi seorang Dai (ES.SOEPRIYADI)
 Dari blog seorang teman

Senin, Januari 24, 2011

MENEMBUS ANGAN

Ku coba bangun titian
Tuk lewati laju reaksi kesedihan
Tembus dan biaskan kesepian
Belokkan ke arah kebahagiaan

Tahap demi tahap tahap reaksi ku lalui
Capai asa yang rasanya terlalu tinggi
Hingga ku sampai pada akhir reaksi
Meski lambat jadi penentu yang pasti

Ku tahu tumbukan cobaan selalu hadir
Halangi niatku yang tak sesuai dengan takdir
Namun tumbukan efektif pasti kan mampir
Menyapa dan memunculkan reaksi akhir

Kini... suhu hidupku meningkat pesat
Hadirkan energi kinetik pada molekul batin yang rapat
Hingga ku mampu bersentuhan tanpa sesat
Gapai akhir bahagia yang bukan sesaat

Anganku... kini kan terwujud
Tertembus oleh tekad yang tulus
Dengan bantuan katalis yang mulus
Tanpa berharap balasan fulus

(ngambil di All About Chemistry....
mdh2n bermanfaat)

Sabtu, Januari 15, 2011

YoU aRe Not alOne

Kesepian anda bukan karena tiadanya orang di sekitar anda, namun karena tiadanya seseorang di hati anda. Anda dapat kehilangan saat-saat yang berharga. Yaitu ketika anda suatu saat merasa enggan untuk memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. Saat mengulurkan pertolongan, tanpa sadar anda menjalin hati anda dan hati orang lain dengan dawai emas yang tak tampak. Dawai itu bernama persaudaraan. Semakin banyak anda menjalin dawai semakin jauh hati anda dari kesepian. Karena dawai-dawai itu akan mendentingkan nada nada yang memenuhi dan menghibur jiwa.

Bangkitlah dan tebarkan uluran tangan anda. Segaris senyum dan tatapan mata yang bersahabat cukup untuk membangunkan bahwa anda sama sekali tidak sendiri.