Tanpa banyak cakap, Obi segera berlari ke sepanjang jalur kiri jalan Jendral Ahmad Yani saat lampu trafficlight berubah merah. Bocah keling bertelanjang kaki itu, seolah tak mempedulikan hawa panas yang menguap dari jalan beraspal akibat terpaan matahari yang menyengat sepanjang siang hingga sore ini.
“Kak ...” sapa Obi dengan wajah memelas sembari mengulurkan mangkuk kecil usang ke arah pengendara sepeda motor dan mobil.
Cring ...
Bunyi kepingan uang logam meluncur masuk ke dalam mangkuk, tanpa ia perlu menunggu dalam waktu yang lama.
“Makasih Kak,” ujarnya dengan wajah sumringah. Yang hanya dijawab dengan satu anggukan kecil oleh para dermawan yang sebagian besar adalah mahasiswa.
Obi girang tak kepalang. Ia lalu berpindah dari satu pengendara ke pengendara yang lain. Seperti tak mengenal rasa malu, menadahkan mangkuk plastik kusamnya tanpa henti. Begitu seterusnya hingga lampu hijau kembali.
“Pulang yuk Bi. Udah hampir malam. Biasanya kalau jam segini orang-orang sering nerobos lampu merah. Nggak bakalan dapat kita,” kata Johan, teman seperjuangan Obi, ketika ia melihat sahabatnya asyik menghitung keping-keping recehannya di sisi trotoar.
“Bentar Jo,” jawab Obi singkat tanpa memalingkan muka ke arah Johan yang ikut mengambil tempat di sampingnya, dan mulai melakukan aktivitas yang sama.
“Dapat berapa?”
“Dua puluh dua ribu dua ratus.” satu senyum tersungging di bibir Obi.
“Banyaklah. Aku cuma sembilan belas ribu.”
“Alhamdulillah. Lumayan Jo, daripada nggak dapat sama sekali,” riang suara Obi terdengar.
@ @ @
Malam mulai merangkak turun. Meniggalkan siluet senja bersama keremangannya. Dengan langkah tergesa, Obi menyusuri jalanan berdebu menuju tempat tinggalnya. Sesekali ia berlari-lari kecil, berharap segera tiba di kediamannya, sebuah pondok buruk yang terbuat dari kardus dan karung bekas. Di sana, Ibeng, adiknya yang baru berusia lima tahun, pasti telah menanti.
Pondokan kecil itu telah tampak dari kejauhan. Gelap dan suram. Karena memang tak memiliki penerangan apa-apa, kecuali sebuah pelita kecil yang nyaris tak bisa menyala karena ketiadaan minyak tanah sebagai bahan bakarnya.
“Ibeng,” terdengar suara Obi di sertai bunyi pintu kardus terbuka.
Dengan hati-hati ia meletakkan sebuah kantong plastik kecil berwarna hitam di atas meja kayu.
“Ada bawa makanan Bang?” suara kecil milik Ibeng terdengar serak.
“Kenapa kau Beng? Aku dengar seperti habis menangis?” tanya Obi cemas seraya memberikan bungkusan yang dibawanya kepada adik tercinta.
“Lapar aku, Bang. Tak makan seharian,” sahut bocah kecil berumur lima tahun itu sambil melahap makanan yang dibawa Obi.
“Kan tadi Abang ada simpan duit di meja. Tak kau pakai untuk beli makanankah?”
Ibeng terdiam. Diteruskannya makan sambil sesekali melirik ke arah Obi.
“Kemana duit yang Abang tinggalkan tadi pagi?” tanya Obi penuh selidik.
“Diambil sama Wak Jago. Buat beli rokok katanya.”
“Brengsek Wak Jago,” Obi geram. Terdengar bunyi giginya gemeletuk.
Terbayang di matanya sosok Wak Jago, lelaki tinggi berisi dengan tatto rajawali di sekujur punggungnya. Lelaki yang ia benci karena tak pernah henti meminta uang kepadanya. Sekaligus ia hormati karena selalu menjadi pelindung mereka selama ini.
“Tak apalah Bang. Tadi Wak Jago sebenarnya bantu aku. Jadi aku kasih duit buat beli rokok,” jelas Ibeng.
“Bantu apa?” tanya Obi penasaran.
“Tadi ada bapak-bapak datang ke sini. Bawa pentungan. Kita yang tinggal di sini, disuruh pergi semua sama dia.”
“Untung ada Wak Jago. Tak jadilah kita disuruh pergi,” jelas Ibeng penuh senyum sambil menceritakan kehebatan Wak Jago dalam bernegosiasi.
Obi tertegun mendengar penjelasan Ibeng barusan. Selera makannya menguap seketika. Bagaimanapun jua, ia paham bahwa yang datang tadi pagi pasti petugas penggusuran bangunan tanpa izin yang didirikan di tanah milik pemerintah.
Bocah kecil itu termangu. Kepalanya sontak berdenyut saat membayangkan rumah mereka harus digusur lagi, untuk kesekian kalinya.
Harus pindah kemana lagi? Bisik hati Obi sembari menatap iba ke arah Ibeng yang tengah sibuk membereskan sisa makannya. Terbayang di matanya bagaimana ia dan adiknya bertahan selama beberapa tahun menghadapi kerasnya kehidupan. Hanya berdua, sambil menanti ibu yang telah lama pergi dan ayah yang tak kunjung kembali.
Obi menggeleng berkali-kali.
“Kemana Bang?” tanya Ibeng begitu melihat Obi bergegas keluar dari rumah kardus mereka.
“Keluar. Cari Wak Jago. Kau tidurlah dulu,” jawab Obi tergesa.
Ibeng menatap kepergian Obi tanpa bersuara. Dari balik dinding, ia memandangi punggung Obi hingga menghilang di balik kegelapan.
@ @ @
Hawa panas masih saja setia menemani siang di penghujung bulan Februari. Matahari yang bersinar terik ditambah debu-debu yang beterbangan semakin membuat tanah Khatulistiwa seolah tak bersahabat.
“Kalau mau mati lompat aja dari tol Kapuas, jangan di jalan!” hardik seorang pengendara sepeda motor kepada Obi yang berdiri mematung di perempatan jalan Diponegoro.
Ia terkejut. Pikirannya seolah kosong hingga ia tak mengindahkan suara klakson kendaraan yang melintas di hadapannya ketika lampu telah kembali hijau. Dengan cekatan Obi melambaikan tangan ke arah pengendara yang melintas, lalu melompat ke trotoar di pinggiran jalan. Dari ekor matanya, ia melihat Johan berlari-lari ke arahnya.
“Gawat Bi. Kampung kita digusur,” jelas Johan dengan nafas tersengal.
Obi terkesiap. Kata-kata itu menyambar dengan cepat memasuki gendang telinganya. Ia menatap Johan dengan pandangan tak percaya.
“Serius kau Jo?” tanya Obi tak yakin.
Johan mengangguk cepat.
Tanpa komando, kedua bocah kecil itu segera berlari sekuat tenaga menuju ke arah kampung mereka.
“Tadi malam aku tanya Wak Jago, katanya, mereka ngasih kita waktu sehari semalam untuk pindah. Kenapa sekarang kita diusir?” kata Obi sambil terus berlari menembus kepadatan lalu lintas.
“Entah,” Johan hanya mengangkat bahu.
Obi berlari membabi buta. Hatinya diliputi kecemasan. Cemas membayangkan Ibeng yang ia tinggalkan sendiri di rumah kardus mereka.
Bodoh kau Bi. Coba saja tadi kau bawa Ibeng serta, rutuknya dalam hati sambil memperlambat larinya karena kampung mereka mulai terlihat.
Kedua anak kecil itu berusaha menembus kerumunan orang yang menyaksikan proses penggusuran lahan. Johan mengibas-ngibaskan kedua tangannya untuk menenbus keramaian. Sementara Obi berteriak-teriak menyerukan nama Ibeng. Tangis, teriakan, dan kemarahan membaur jadi satu, menelusup hingga ke pori-pori membuat mereka merinding.
“Ibeeeeeeeeeng,” Obi berteriak semampu yang ia bisa.
Bulir-bulir air mata mengalir deras di pipinya yang legam, mendapati rumah kardusnya rata dengan tanah dan adik kecilnya menghilang entah kemana.