“Sebulan lagi adikmu menikah. Kamu kapan?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan Abah barusan. Pertanyaan yang sama seringkali dilontarkannya dalam beberapa tahun belakangan.
“Belum tau.”
“Masa’ belum punya rencana?”
“Gimana mau nikah, calonnya aja nggak ada.”
“Emang bisa asal comot lelaki di pasar buat diajak nikah?,” jawabku kesal.
“Nanti orang-orang jadi malas mau pergi ke undangan kita. Tiap tahun ada saja yang nikah.” Abah tak mau kalah.
“Itukan resiko. Abah punya anak perempuan lebih dari satu. Wajarkan.”
“Kalau bisa, kamu juga sekalian,” kata beliau setelah menimbang beberapa jenak.
“Masih ada waktu satu bulan. Kau carilah. Kau punya banyak teman lelaki. Tak mungkin satu pun tak ada yang cocok.” Lelaki itu menghembuskan asap cerutunya disela pembicaraan.
“Jangan terlalu pemilih, Rey.” Mak berkata lembut.
“Dan jangan sampai kau dilangkahi lagi oleh adikmu.”
Duggg...!!!!
Kata-kata Mak telak menghantamku.
“Yang pemilih itu abah. Bukan aku!!” lanjutku geram sambil berlalu.
Seandainya saja tujuh tahun yang lalu Abah menerima lamaran Reza, mungkin saat ini aku sudah beranak pinak. Menghadirkan dua atau tiga orang cucu dalam kehidupan Abah dan Mak. Dan tentu tak harus terbebani oleh kata-kata lembut wanita itu. Juga tak harus pontang-panting mencari calon dalam waktu satu bulan.
Tapi, apa hendak dikata, Abah menolak dengan alasan Reza bukan keturunan bangsawan sepertinya. Lelaki aristokrat itu tak rela jika gelar kebangsawanannya terputus pada kami, ketiga anak perempuannya.
Aku sempat menangkap pancaran sedih dimata Reza. Lelaki baik hati itu terluka.
“Tak apa Bah. Mungkin saya bukan yang terbaik buat Rey.” Reza menjawab penolakan Abah dengan tenang.
Jangan kau tanya bagaimana perasaanku kala itu. Terlalu sakit, sehingga tak mampu berkata apa-apa. Bahkan, untuk beradu argumen seperti yang kerap kali kulakukan pun, aku tak sanggup.
Berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Berharap Abah berubah pikiran. Tapi hasilnya, nihil. Abah tetap tak bergeming dengan keputusannya.
Dan aku selalu berharap, keajaiban itu datang. Hingga saat ini, di titik usiaku yang paling rawan, dua puluh sembilan tahun, aku masih harus meniti hidupku sendiri. Dalam sunyi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar